Kamis, 21 Februari 2013

ilmu hadits


BAB I
BEBERAPA PENGERTIAN

  1. Pengertian Hadits, Sunnah, Atsar, dan Khabar
            Al-Hadits menurut bahasa mempunyai beberapa arti yaitu baharu, berhasil/berlaku, berita, ceritera, dan menceritakan. Sedangkan menurut jumhur muhadditsin adalah :  ما اضيف الى النبى ص.ع.م  قولا اوفعلا اوتقريرا اونحوها                      
Artinya : Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan) maupun yang sepadannya.
*Macam-macam Hadits:
-Qauliyah adalah perkataan yang pernah diucapkan oleh Nabi ًٍِSAW. Contoh :
اليد العليا خير من اليد السفلى (رواه البخار ومسلم(                                                                   
Artinya : Tangan yang diatas (memberi) lebih baik dari pada tangan yang dibawah (menerima). (H.R. Bukhari dan Muslim)
-Fi’liyah adalah perbuatan Nabi SAW yang merupakan penjelasan praktis pelaksanaan peraturan syara’ yang belum jelas. Misalnya tentang tata cara melaksanakan ibadah haji, beliau bersabda :خذوا عنى منا سككم (رواه مسلم عن جابر)        Artinya : “Ambillah dari padaku cara-cara engkau melakukan haji”. (H.R. Muslim dan Jabir) 
-Taqrir Nabi ialah persetujuan atau diamnya Nabi terhadap perbuatan sahabat di hadapan beliau atau yang dilaporkan pada beliau, misalnya tentang halalnya daging dhab (semacam biawak).
As-Sunnah menurut bahasa berarti jalan/perjalanan. Sedangkan menurut istilah jumhurul muhadditsin, As-Sunnah sama pengertiannya dengan Al-Hadits yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan perkataan, perbuatan, taqrir maupun yang sepadannya.
Al-Khabar Menurut bahasa ialah sesuatu berita yang dipindahkan dari orang pada orang lain. Ada juga yang berpendapat bahwa setiap hadits itu khabar,tapi tidak setiap khabar bisa dinamakan hadits.
Al-Atsar Menurut bahasa adalah bekasan sesuatu atau sisa sesuatu. Sedangkan menurut istilah Al-Atsar sama dengan Al-Hadits, As-Sunnah dan AL-Khabar yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Misalnya dalam firman Allah :
سيماهم فى وجوههم من اثر السجود (الفتح 29)                
Artinya:Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.(Q.S. Al- Fath 29)
  1. Pengertian Matan, Sanad dan Rawi (unsur-unsur hadits)
Matan menurut bahasa ialah ما صلب وارتفع من كل شئ artinya: “ apa-apa yang mengeras dan meninggi dari tiap-tiap sesuatu. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Matan adalah materi hadits.
Sanad menurut bahasa ialah sandaran, yang tersandarkan kepadanya. Sedangkan menurut istilah muhadditsin, Sanad ialah jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada Nabi Muhammad SAW. Usaha menerangkan sanad hadits disebut Isnad, dan orang yang menerangkan hadits beseta sanadnya disebut Musnid, sedangkan hadits yang diterangakan sanadnya dinamakan Musnad.
Rawi, Marwi dan Riwayat menurut bahasa Rawi berarti orang yang memindahkan. Sedang Riwayat berarti pemindahan dan Marwi berarti sesuatu yang dipindahkan. Menurut istilah ahli hadits, Rawi adalah orang yang memindahkan hadits dari seorang guru kepada orang lain. Marwi adalah hadits yang dipindahkan oleh seorang rawi. Sedangkan riwayat adalah pemindahan hadits dari seorang guru kepada orang lain.
Contoh rawi, matan dan sanad misalnya dalam hadits Anas RA :
قال البخارى ر.ض. :حدثنا محمد بن المثنى قال : حدثنا عبد الوهاب الثقفى قال : حدثنا ايوب عن قلابة عن

انس عن النبى ص.ع.م. قال : ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الايمان : ان يكون الله ورسوله احب اليه مما

سواهما. وان يحب المرء لا يحبه الا لله، وان يكره ان يعود في الكفر كما يكره ان يقدف فى النار

 (رواه البخارى)                                         

  1. Pengertian Takhrij, Istikhraj,Mukharaj, Istidrak, Dan Mustadrak.
Takhrij, Istikhraj menurut bahasa berarti mengeluarkan sesuatu dari sesuatu tempat, sedangkan mukharij adalah orang yang mengeluarkan sesuatu dari sesuatu tempat, dan mukharraj mustakhraj adalah sesuatu yang dikeluarkan.
Mukharrij, Mustakhrij menurut istilah ahli hadits, adalah searti, Mustakhrij berarti orang yang memindahkan sesuatu hadits dari kitab susunan orang lain dan berusaha mencari sanad lain yang berbeda dengan sanad yang telah ada dalam kitab tersebut.
Mustakhraj, Mukharraj menurut istilah ahli hadits, ialah suatu hadits yang dinukil dari kitab karangan orang lain yang dijelaskan sanadnya yang menyimpang dari sanad yang ditetapkan oleh penyusun kitab tersebut. Contoh kitab mustakhraj ialah : Mustakhraj Abu Nu’aim karya Abu Nu’aim Dan Mustakhraj Al-Isma’ily karya Al-Isma’ily.
Istidrak, Mustadrak menurut istilah ahli hadits, Istidrak ialah usaha mencari / mengumpulkan hadits-hadits shahih selain yang termuat dalam shahih bukhari / shahih muslim, dengan persyaratan Bukhari-Muslim. Sedang mustadrak ialah kumpulan hadits-hadits shahih yang terdapat dalam Jami’ush Shahih Bukhari atau Muslim.
D. Laqab / Gelar Ahli Hadits
- Amirul Mukminin fil Hadits, gelar ini adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada para khalifah. Yang memperoleh gelar ini adalah Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, Imam Muslim.
- Al-Hakim, gelar ini diberikan kepada ahli hadits yang hafal 300.000 hadits dan menguasai matan, sanad, serta mengetahui ta’dil dan tarjihnya. Diantara yang mendapat gelar ini adalah Ibnu Dinar, Imam Malik, Imam Syafi’i.
- Al-Hujjah, gelar keahlian ini diberikan pada  para imam yang sanggup menghafal 300.000 hadits serta sanad, perihal tentang  perawi, kecacatan dan biografinya. Diantara yang mendapat gelar ini adalah Hisyam bin Urwah, Muhammad Abdullah bin Amr.
- Al-Hafidh, gelar yang diberikan bagi orang yang mampu menghafal 100.000 hadits serta sanad dan rawinya, serta dapat menshahihkan sanad, matan hadits dan dapat menta’dilkan serta menjarahkan rawinya. yang mendapat gelar ini diantaranya : Al-‘Iraqy, Ibnu Hajar Al-Aqalany dan Ibnu Daqiqil’ied.
- Al-Muhaddits, gelar keahlian yang diberikan kepada orang yang dapat menghafal dan menguasai sekurang-kurangnya 1.000 hadits. Yang mendapat gelar ini diantaranya ialah : Atha’ bin Abi Rabin, dan Imam Az-Zabidy.
- Al-Musnid gelar yang diberikan kepada orang yang meriwayatkan hadits beserta sanadnya, baik dia menguasai ilmunya maupun tidak.

BAB II
RUANG LINGKUP PEMBAHASAN HADITS DAN ILMU HADITS

A.    Ruang lingkup pembahasan hadits
-          Qauliyah ialah perkataan yang pernah diucapkan Nabi dalam berbagai bidang. contoh :  انما الاعمال ب بالنيات وانما لكل امرئ ما نوي
Artinya : sesungguhnya amal-amal perbuatan itu dengan niat, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan.
-          Fi’liyah ialah apa saja yang diperbuat Nabi SAW.
Contoh:
كان رسول الله ص.ع.م. صلى على راحلته حيت توجهت به فاذااراد الفريضة نزل فا ستقبل القبلة (رواه البخاري)
Artinya : konon Rasulullah SAW bersembahyang diatas kendaraan (dengan menghadap kiblat) menurut kendaraan itu menghadap. Apabila beliau hendak sembahyang fardlu, beliau turun sebentar terus menghadap kiblat.
-          Taqririyah ialah keadaan Nabi mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atas apa yang telah dilakukan atau diucapkan oleh para sahabat dihadapan beliau.
-          Hammiyah, dapat berupa sifat Nabi yang dilukiskan oleh para sahabat dan ahli tarikh, juga berupa keadaan silsilah, nama dan tahun kelahiran yang ditetapkan para sahabat dan ahli tarikh dan juga berupa himmah (hasrat) beliau yang belum sampai terealisir, misalnya hasrat beliau untuk mengerjakan puasa pada tanggal 9 Asyura.
B.     Ruang lingkup pembahasan ilmu hadits
Ilmu hadits ialah ilmu pengetahuan tentang sabda, perbuatan, persetujuan, gerak-gerik dan bentuk jasmaniyah Rasulullah SAW serta sanadnya dan ilmu yang membedakan tentang keshahihannya, kehasanannya, kedla’ifannya baik matan maupun sanadnya.
*Macam- macam Ilmu Hadits :
1.      Ilmu Hadits Riwayah ialah ilmu pengetahuan untuk mengetahui cara penukilan, pemeliharaan dan pendewanan segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW. Obyek pembahasan ilmu ini adalah : Pribadi Nabi baik perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat-sifat dari segi penukilannya dan Bagaimana cara menerima, menyampaikan kepada orang lain dan memindahkan atau menuliskan suatu hadits. Manfaat mempelajari ilmu ini adalah untuk menghindari adanya kemungkinan salah kutip atau kesengajaan penukilan yang salah terhadap apa yang seharusnya disandarkan kepada Nabi SAW. Adapun perintis pertama dari ilmu ini adalah : Muhammmad Bin Syihab Az Zuhry (wafat tahun 124 H)
2.      Ilmu Hadits Diroyah ialah
علم الحديث الدراية هو علم يعرف به احول السند والمتن من حيث القبول والرد وما يتصل بذالك
ilmu yang berguna untuk mengetahui keadaan sanad dan matan dari segi diterima atau ditolaknya serta hal-hal yang bersangkut paut dengannya. Manfaat mempelajari ilmu ini adalah dapat mengetahui mana hadits-hadits yang diterima (maqbul) dan ditolak (mardud). Perintis ilmu ini ialah Al-Qadh Abu Muhammad Ar-Ramahurmuzy (wafat tahun 360 H )
  1. Cabang-cabang ilmu hadits
*Cabang –cabang ilmu hadits yang berpangkal pada sanad,antara lain:
1.      Ilmu Rijalil Hadits adalah ilmu pengetahuan yang membahas hal ihwal dan sejarah kehidupan para rawi dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Sahabat menurut istilah ahli hadits ialah orang islam yang dapat bertemu dan bergaul dengan Rasul dalam keadaan beriman hidup dan matinya. Seseorang dapat digolongkan kepada sahabat dapat diketahui dengan ketentuan sebagai berikut : ditentukan oleh khabar mutawathir, ditentukan oleh khabar masyhur dan mustafidl, diberikan oleh seorang shahaby yang lain, diberikan oleh seorang tabi’i yang tsiqah. Tabi’in ialah orang yang menjumpai sahabat dalam keadaan iman dan islam baik perjumpaannya itu lama atau sebentar. Mawaly ialah para rawi dan ulama’ yang semula asalnya budak yang telah dimerdekakan oleh tuannya. Orang yang memerdekakan budak disebut Maula, sedangkan hak perwaliannya disebut Wala’.
2.      Ilmu Jarh Wa Ta’dil, ialah
علم الجرح والتعد يل هو العلم الذى يبحث فى احوال الرواة من خيث قبول رواتهم ام ردهم
 ilmu yang membahas hal yang berhubungan dengan para rawi dan segi diterima atau tidaknya riwayat mereka. Ada dua sifat pokok bagi periwayatan yaitu adil dan dlobith. Adil berarti sifat yang melekat pada diri seseorang dan orang tersebut selalu berbuat taqwa dan menjaga muru’ah. Sedang dlobith berarti kekuatan ingatan rawi atas sesuatu yang dia terima dan kefahamannya terhadap apa yang didengarnya. Sifat- sifat yang dapat menggugurkan keadilan rawi ialah : dusta (pendusta) maka hadits yang diriwayatkannya disebut Maudlu’. Tertuduh dusta, hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tertuduh dusta disebut hadits Matruk. Fasik. Tidak dikenal keadaannya, hadits yang diriwayatkannya disebut hadits Mubham. dan Penganut bid’ah, haditsnya disebut hadits Mardud.
Sifat-sifat yang menggugurkan kedlabitan rawi adalah : Banyak salah. Lengah dalam menghafal, hadits yang diriwayatkannya disebut hadits Munkar. Hafalannya tidak baik, hadits yang diriwayatkannya disebut hadits Mukhtalis. Banyak sangka, hadits yang diriwayatkannya disebut hadits Mu’allal. Menyalahi rawi kepercayaan, jika karena penambahan suatu sisipan haditsnya disebut Hadits Mudraj. Jika karena memutar balikkan susunan redaksi maka haditsnya disebut Hadits Maqlub. Jika menyalahinya dengan perubahan huruf syakal maka haditsnya disebut Hadits Muharraf, jika menyalahinya karena dengan merubah titik-titik kalimat maka haditsnya disebut Hadits Mushahaf. Kitab-kitab ilmu jarh wat  ta’dil : Adl-Dlu’afa’ karya imam Muhammad bin ismail Al-Bukhari (194-252H). Ats- Tsiqat karya abu hatim ibn Hibban Al-Butsy (wafat tahun 304 H).
3.      Ilmu Tawarikhir Ruwah ialah
هو الذى يعرف به رواة الحديث من الناحية التى تتعلق بروا يتهم للحد يث
ilmu pengetahuan untuk mengetahui riwayat hidup para rawi hadits dan hal-hal yang bersangkutan dengan periwayatan hadits. Kitab ilmu ini adalah : At- Tarikhul Kabir karya Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (194-252 H). Tarikhul Baghadada karya Abu Bakar Ahad Ali Al-Baghdady (392- 463 H).
4. Ilmu Thabaqatir Ruwah ialah ilmu pengetahuan yang pembahasannya ditujukan kepada kelompok orang-orang yang berserikat dalam satu alat pengikat yang sama. Adapun yang menyusun ilmu ini adalah Abu Bakar Ahmad Al-Khatib. Kitab-kitab ilmu ini adalah : Ath-Thabaqatul Kubra karya Muhammad bin Saad bin Mani’ Al-Hafidh Katib Al-Waqidy (168-230 H). Thabaqatur Ruwah karya Al-Hafidh Abu Amar khalifah bin Khayyath Asy-Syaibani (240 H).
*cabang-cabang ilmu hadits yang berpangkal pada matan, antara lain :
1.      Ilmu Asbabi Wurudl Hadits ialah ilmu yang dapat megetahui sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masa Nabi menuturkannya. perintis ilmu ini ialah Abu Hamid bin Haznah Al-Jubary, yang kemudian disusul oleh Hafas Umar bin Muhammad ibnu Raja’I Al-Ukbary (380-458 H).
2.      Ilmu Tawarikhil Mutun ialah bagian dari ilmu Asbabi Wurudil Hadits yang menitik beratkan pada pembahasannya, pada kapan atau diwaktu apa hadits itu diucapkan. Diantara perintis ilmu ini dan kitabnya adalah Imam sirajuddin Abu Hafas Amar bin Salar Al-Bulqiby karyanya diberi nama Mahasinul Isthilah.
3.      Ilmu Nasikh Wal Mansukh ialah
علم يبحث فيه عن النا سخ والمنسوخ من الاحاديث
ilmu yang didalamnya dibahas hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan yang menasikhkan. Kitab yang membahas ilmu ini adalah : Al-I’tisu fi Bayanin Nasikh wal Mansukh minal Atasr karya Muhammad bin Musa Al-Hazimy (504 H). Nasikhul Hadits wa Mansukhuhu karya Al-Hafidh Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Atsram (261 H).
4.      Ilmu Talfiqil Hadits ialah ilmu yang membahas tentang tata cara mengumpulkan antara hadits yang berlawanan lahirnya, diterangkan pula cara untuk menentukan hukum dari dalil hadits yang lahirnya berlawanan. Kitab yang membahas ilmu ini adalah : Mukhtaliful Hadits karya Imam As-Syafi’I (204 H), At-Tahqiq karya Ibnul Jauzy (597 H).
5.      Ilmu Gharibil Hadits ialah ilmu yang dengannya diketahui lafadh dalam matan hadits yang sulit difahami karena jarang dipergunakannya. Muhaddits yang mula-mula berusaha membahas ilmu ini ialah Abu Ubaidah Ma’mur bin Al-Mutsana At-Taimy (210 H), kemudian usaha itu diperluas oleh Abul Hasan An-Nadlir bin Syamil Al-Mazini. Kitab ilmu ini adalah : Gharibil Hadits karya Abu Ubaid Al-Qasim bin Sall am (157-224 H), Al-Faiqy fi Gharibil Hadits karya Az-Zamahsari (468-538 H).
6.      Ilmu Tashif Wat Tahrif adalah ilmu yang menerangkan hadits yang sudah dirubah titik dan bentuk hurufnya sehingga dapat diketahui hadits mushaf dan muharaf. Kitab yang menerangkan ilmu ini adalah kitab Ad-Daraquthni (385 H) dan At-Tashif wat Tahrif  karya Abu Ahmad Al-Askary (284 H).
7.      Ilmu Ilalil Hadits adalah
هو العلم الذى يبحث عن الاسباب الخفية الغامضة من جهة قدحها فى الحديث
ilmu yang membahas tentang yang samar lagi tersembunyi dari segi yang mencacatkan suatu hadits. Kitab-kitab yang membahas illat-illat hadits antara lain : At-Tarikh wal illal karya Al-Hafidh Yahya bin Ma’in (158-233 H), Lilalul hadits karya Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H).
 BAB III
SEJARAH PERKEMBANGAN HADITS

  1. Kepentingan Mempelajari Sejarah Perkembangan Hadits
Mempelajari suatu materi dari macam-macam ilmu haruslah disertai dengan mempelajari sejarah tumbuh dan perkembangan dari ilmu tersebut. Dalam hal  mempelajari hadits dan ilmu hadits, kita dapat mengetahui tentang sikap dan tindakan umat terhadap hadits serta usaha-usaha bagi pembinaan dan pemeliharaan hadits tersebut. Sehingga sejarah merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari suatu ilmu. Obyek pembahasan dan penelaahan sejarah hadits : Tentang periode perkembangan hadits dan Tentang biografi pemuka-pemuka hadits.
  1. Periode Perkembangan Hadits.
Periodesasi Sejarah hadits yang membaginya pada 7 periode yaitu :
1.      Periode pertama, Masa Rasulullah disebut masa turun wahyu dan pembentukan masyarakat islam.
2.      Periode kedua, Masa sahabat besar (kholafaur rasyidin) disebut  zaman pematerian dan penyederhanaan.
3.      Periode ketiga, Masa sahabat kecil dan tabi’in besar disebut  masa penyebaran riwayah kekota/daerah.
4.      Periode keempat, dari permulaan kedua hijriyah sampai akhir abad kedua hijriyah disebut masa penulisan dan pentadwinan.
5.      Periode kelima, awal abad ke-3 hijriyah sampai akhir abad ke-3 hijriyah disebut masa penyaringan, pemilihan dan perlengkapan.
6.      Periode keenam, dari awal abad ke-4 hijriyah sampai jatuhnya kota Baghdad 656 H, disebut  عصر التهديب والترتيب والاستدراك والجمعmasa pembersihan, penyusunan, penambahan dan pengumpulan.
7.      Periode ketujuh, masa sesudah daulah Abbasiyah 656 H sampai sekarang disebut masa pensyarahan, penghimpunan, pentakhrijan dan pembahasan.
Adapun yang membagi menjadi  5  periode adalah :
1.      Periode pertama abad I H
2.      Periode kedua abad II H, dalam masa ini kitab yang yang termasyhur adalah : Al-Muwatha’ susunan Imam Malik, Musnad  As-Syafi’I, Mukhtaliful Hadits.
3.      Periode ketiga abad III H, pada periode ini telah terjadi penyaringan hadits . dan para ulama’ yang telah menyaring hadits adalah : Muhammad bin Ismail Al-Bukhari kitabnya Shahihul Bukhari yang memuat 8.122 hadits. Dan Muslil bin Hajjaj bin Muslim Al- Qusyairi / Imam Muslim kitabnya Shahih Muslim memuat 7.273 Hadits.
4.      Periode keempat,abad IV H, hadits mulai dihafal dan diselidiki sanadnya.
5.      Periode kelima abad V H, berusaha mengklasifikasikan hadits pada bab-bab atau topik tertentu. Kitab hadits hukum : Muntaaaqal Akbar oleh Najamuddin.

BAB IV
ILMU MUSTHALAHUL HADITS

A.    Pengertian Obyek dan Faedah Ilmu Musthalahul Hadits.
Ilmu Musthalah Hadits adalah
علم يعرف به ما اصطلح عليه المحدثون وتعارفون فيما بينهم
Suatu ilmu untuk mengetahui segala yang telah disepakati para ahli hadits dan telah lazim dipergunakan dalam pembahasan mereka. Obyek pembahasannya adalah  berkisar pada sanad dan matan. Ruang lingkup pembahasan ilmu ini adalah : Mengenai macam hadits dan pembagiannya, Nama rawi dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, Cara menerima dan meriwayatkan hadits, dan dari mana ia menerima dan pada siapa diriwayatkannya. Manfaat mempelajari ilmu ini adalah : Untuk mengetahui nama hadits yang maqbul (dapat diterima) dan mardud (ditolak) dan Untuk mengetahui mana hadits yang belum dapat diterima atau belum bisa ditolak (yang dimauqufkan) sehingga mendapatkan kejelasan.
  1. Hadits ditinjau dari segi ma’na yang dikandungnya ada 2 macam :
a.       Hadits Qudsi adalah hadits yang maknanya berasal dari Allah, tetapi lafadznya dari Nabi sendiri. Ulama’ yang telah menghimpun hadits qudsi ini adalah: Ibnu Taimiyah, kitabnya Al- Kalimuth Thayyib dan Dr. Ahmad As-Syarbashy, kitabnya Adabul Ahditsil Qudsiyah.
b.      Hadits Nabawi Adalah sesuatu yang disandarkan pada Nabi SAW baik perkataan, perbuatan, taqrir dan lain sebagainya.
2.      Hadits ditinjau dari segi banyak/sedikitnya perawi ada 2 macam:
a.      Hadits Mutawatir Adalah suatu hadits hasil tanggapan panca indera yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi. Kitab-kitab yang menghimpun hadits mutawatir Al-Azharul Mutanatsirah Fil Akhbaril Mutawatirah susunan Imam As-Syuyuti. Faedah Hadits Mutawatir  yaitu “ilmu dlarury” keharusan menerima dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits ini datang dari Nabi SAW sehingga  wajiblah bagi muslim untuk menerima dan mengamalkan semua Hadits Mutawatir.
Syarat-syarat hadits mutawatir : Hadits yang diberitakan oleh rawi-rawi harus berdasarkan tanggapan pancaindera, Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka bersepakat untuk berdusta, Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya.
Pembagian Hadits Mutawatir : Hadits Mutawatir Lafdhi yaitu hadits yang sama bunyi lafadzh para rawi dan juga pada hukum dan maknanya, Hadits Mutawatir Maknawi yaitu hadits yang berlainan bunyi lafadz dan maknanya tetapi dapat diambil dari kesimpulannya satu makna yang umum, Hadits Mutawatir Amali yaitu sesuatu yang dengan mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah mutawatir diantara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya/memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan hal itu.
b.      Hadits  Ahad adalah suatu hadits tidak terkumpul syarat-syarat mutawatir.
Dari segi jumlah perawinya, Hadits Ahad dibagi menjadi 3 macam :
-          Hadits Masyhur adalahما رواه الثلاثة فاكثر ولم يصل درحة التواتر  Hadits yang diriwayatkan oleh 3 orang rawi/lebih tetapi tidak mencapai derajat hadits mutawatir. Pembagian hadits Masyhur dari segi kemasyhurannya : Masyhur dikalangan para muhadditsin dan dikalangan ahli-ahli ilmu tertentu, dan dikalangan orang-orang umum saja.
-          Hadits Aziz adalah Hadits yang diriwayatkan oleh 2 orang rawi, meskipun hanya terdapat pada satu thabaqat (lapisan), kemudian setelah itu diriwayatkan oleh orang banyak.
-          Hadits Gharib adalah hadits yang dalam periwayatannya ada perawi yang menyendiri. Pembagian hadits Gharib :
a. Dari segi kegharibannya : Hadits Gharib Mutlak yaitu apabila keghariban  hadits itu betul-betul mengenai jumlah perawinya dan Hadits Gharib Nisbi yaitu apabila hadits yang diriwayatkan itu terdapat penyendirian pada sifat atau keadaan dari pada rawi. Mengenai sifat atau keadaan itu dapat berupa: sifat keadilan dan kedlabitannya (tsiqah), Tempat tinggal atau kota tertentu, Meriwayatkan hadits dari rawi tertentu.
b.      Dari segi keghariban terletak pada sanad atau matan : Gharib pada Sanad: baik pada personalia,sifat atau keadaan perawi. Gharib pada matan : dengan menambah sebagian kalimat dalam matan hadits. Gharib pada sanad dan matan.
I’TIBAR adalah meneliti secara mendalam apa yang diriwayatkan oleh seseorang. Hadits Mutabi’ adalah Hadits yang mengikuti periwayatan rawi lain sejak dari gurunya atau gurunya guru itu. Mutabi’ adalah orang yang mengikuti periwayatan itu. Mutaba’ adalah orang yang diikuti dan mutaba’ah adalah : perbuatan mengikuti tersebut. Mutabi’ ada 2 macam : Mutabi’ Tam adalah apabila periwayatan si mutabi” itu mengikuti periwayatan guru mutaba’ dari yang terdekat sampai yang terjauh. Mutabi’ Qashr adalah apabila periwayatan si mutabi” itu mengikuti periwayatan guru mutaba’ dari yang terdekat saja.
SYAHID adalah ان يروي حديثا اخر بمعناه  meriwayatkan sebuah hadits lain sesuai dengan maknanya. Hadits Syahid ada 2 macam : Syahid bil Lafdhi yaitu apabila matan hadits yang diriwayatkan shahabi lain itu sama /sesuai lafadh  dan maknanya dengan hadits fardnya. Syahid bil Makna yaitu apabila matan hadits yang diriwayatkan oleh shahabi lain itu hanya sesuai dengan maknanya saja.
Dari segi kwalitasnya ( Shahih/tidaknya) Hadits Ahad dibagi 3 macam :
-          Hadits Shahih yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatannya/dlabit, bersambung sanadnya, tidak cacat dan tidak syad (janggal). Martabat hadits shahih yang paling tinggi adalah “ Ashahhul Asaid “(sanad-sanad lebih shahih). Pembagian Hadits Shahih : Hadits Shahih Lidzatihi yaitu hadits yang sudah memenuhi syarat-syarat shahih. Hadits Shahih Lighairihi yaitu Hadits yang kurang memenuhi syarat-syarat shahih namun ada sesuatu yang menutupi kekurangan itu.
-          Hadits Hasan adalah hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil, yang kurang kuat ingatannya, sanadnya bersambung, tidak berillat dan tidak janggal. Pembagian Hadits Hasan: Hadits Hasan  Lidzatihi yaitu hadits hasan dengan sendirinya tanpa dihasankan oleh hal lain. Hadits Hasan  Lighairihi yaitu hadits yang berderajat hasan karena hal lain.
Kedudukan hadits shahih dan hadits hasan, kebanyakan ulama’ hadits dan ahli fiqh sepakat mempergunakan hadits shahih dan hadits hasan sebagai ‘hujjah’. Khusus untuk hadits hasan, walaupun rawinya kurang dlobith apabila dibandingkan dengan rawi hadits shahih, tetapi rawi hadits hasan masih terkenal sebagai orang yang jujur dan bersih dari melakukan perbuatan dusta atau tidak diragukan akan keadilannya.
-          Hadits Dla’if adalah ما فقد شرطا او اكثر من شروط الصحيح او الحسن hadits yang tidak mencapai derajat shahih maupun hasan. Tingkatan hadist Dla’if Hadist yaitu Maudlu’, Matruk, Munkar, Mu’allal, Mudraj, Maqlub dan Mudltharab. Pembagian Hadits Dla’if : Hadits maqbul ialah termsuk di dalamnya hadits shahih dan hadits hasan. Hadits mardud ialah hadits dla’if. Muhadditsin mengemukakan bahwa sebab-sebab mardud (tertolaknya) suatu hadits ada 2 jurusan yaitu dari jurusan sanad dan dari jurusan matan.
Macam-macam hadits dla’if berdasarkan cacat keadilan dan kedlabitan perawinya :
a.       Hadits Maudlu’adalah suatu hadits  yang dibuat oleh seseorang kemudian dikatakannya bahwa hadits itu dari Rasulullah SAW padahal sebenarnya Rasulullah tidak pernah sama sekali mengatakan, berbuat ataupun menetapkan hal sebagaimana yang termaksud dalam hadits buatan itu.
b.      Hadits Munkar Adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya, yang bukan karena dusta.
c.       Hadits Syadz Adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah (seorang saja/menyendiri).
d.      Hadits Mu’allal adalah hadits yang tidak terdapat cacat pada lahirnya tetapi setelah diadakan penelitian terdapat padanya hal-hal yang mencacatkan.
e.       Hadits Mudltharib adalah hadits yang terdapat mukhalafah (menyalahi dengan hadits lain) padanya dengan tidak ada dapat ditarjihkan.
f.       Hadits Maqlub adalah hadits yang terjadi mukhalafah (menyalahi hadits lain) disebabkan karena mendahulukan dan mengakhirkan.
g.      Hadits Murakkab adalah hadits yang terdapat penukaran padanya .
h.      Hadits Munqalib adalah hadits yang bertukar salah satu lafadhnya atas si perawi oleh karenanya berubahlah maknanya.
i.        Hadits Mujrad Adalah hadits yang disadur dengan sesuatu yang bukan hadits.
j.        Hadits Mushahhaf Adalah hadits yang mukhalafahnya karena perubahan titik kata sedang pada bentuk tulisannya tidak berubah.
k.      Hadits Muharraf Adalah ما وقعت المخالفة فيه بتغيير الشكل في الكلمة مع بقاء الخط hadits yang mukhalafahnya terjadi karena perubahan syakal kata dengan masih tetap bentuk tulisannya.
l.        Hadits Muhmal Adalah hadits yang diriwayatkan dari salah seorang yang serupa namanya, atau pada segala yang tersebut, sedang salah seorang dari dua orang yang serupa itu tidak kepercayaan (ghairu tsiqah)
m.    Hadits Mubham Adalah hadits yang didalam sanadnya ada orang yang tidak disebut namanya baik orang itu laki-laki maupun perempuan.
n.      Hadits Majhul, ada 2 yaitu : Hadits majhul ‘Ain adalah hadits yang pada sanadnya ada seorang rawi yang disebut namanya tetapi tidak dikenal orangnya dan yang meriwayatkan dari padanya hanya seorang saja. dan Hadist Majhul Hal adalah hadits yang pada sanadnya ada rawi yang disebut namanya dan dikenal orangnya, diriwayatkan oleh 2 orang atau lebih yang adil akan tetapi rawi tersebut tidak dikatakan tsiqoh.
o.      Hadist Mudla’af Adalah hadist yang tidak disepakati kedlo’ifannya.
 Macam-macam hadist Dho’if berdasarkan gugurnya (tidak dipakainya) perawi dalam sanad :
Macam-macam hadits dla’if berdasarkan gugurnya perawi dalam sanad :
a.       Hadist Mu’allaq adalah hadits yang dibuang permulaan sanadnya baik yang dibuang itu seorang atau banyak.
b.      Hadist Mursal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Tabi’i kecil atau besar dari Nabi SAW dengan tidak menyebutkan siapa yang menceritakan hadits kepadanya. Hadist mursal ada 3 yaitu hadist Mursal jaly, Mursal Shahaby, Mursal Khafi.
c.       Hadist Mudallas adalah hadist yang diriwayatkan dengan cara memperkirakan bahwa hadist itu tidak mempunyai aib, baik pada sanad, guru maupun dengan menghilangkan nama yang tercacat. Hadist mudallas dibagi 3 yaitu Tadlis Isnad, Tadlis syuyukh, Tadlis Taswiyah/Tajwid.
d.      Hadist Munqathi’ adalah hadist yang gugur seorang rawinya sebelum shahabat disatu tempat, atau gugur 2 orang pada 2 tempat dalam keadaan tidak berturut-turut.
e.       Hadist Mu’dlal adalah ما سقط فيه اثنان فصاعدا مع التوالى في موضع واحد hadist yang telah gugur padanya 2 orang rawi atau lebih dalam sanad, dengan beriring-iringan ditempat yang sama.
Macam-macam hadist Dlo’if berdasarkan sifat matan dibagi 2:
a.       Hadist Mauquf adalah berita yang disandarkan kepada shahabi, baik perkataan,perbuatan maupun penetapan yang hal itu bersambung sanadnya maupun terputus.
b.      Hadist Maqthu’ adalah sesuatu yang datang dari tabi’i baik berupa perkataan/perbuatan serta dimauqufkan padanya, baik hal itu sanadnya bersambung atau tidak. Hukumnya yaitu dijadikan sebagai hujjah.
3.      Hadist ditinjau dari segi yang empunya hadist  ada 3 macam :
a.       Hadist Marfu’ adalah Hadist yang disandarkan kepada Rosulullah SAW, baik sanadnya itu muttashil (bersambung), munqathi’ atau Mu’dlal.
Macam-macam Hadist Marfu’:
a.       Hadist marfu’ qauli haqiqi yaitu apabila yang disandarkan oleh sahabat kepada Nabi SAW itu berhubungan dengan sabda beliau secara tegas.
b.      Hadist Marfu’ qauli Hukmi yaitu hadist yang disandarkan sahabat kepada Nabi SAW secara tegas tetapi dengan qarinah yang memberi pengertian bahwa ucapan itu datang dari Nabi SAW.
c.       Hadist Marfu’ Fi’li Haqiqi yaitu apabila yang disandarkan kepada Nabi SAW oleh shahabat itu berupa perbuatan, dengan secara tegas.
d.      Hadist Marfu’ Fi’li Hukmi yaitu suatu perbuatan yang disandarkan kepada Nabi SAW dengan tidak tegas.
e.        Hadist Marfu’ Taqriri Haqiqi yaitu apabila yang disandarkan oleh sahabat kepada Nabi SAW,itu berhubungan dengan taqrir beliau, secara tegas.
f.       Hadist Marfu’ Taqriri Hukmi: apabila pemberitaan shahabat tentang suatu perbuatan yang dilakukan Nabi dengan tidak jelas, dengan menyertakan lafadz “ Sunnatu Abil Qasim,minas sunnati atau sunnatu nabiyyina “.
4.      Hadits ditinjau dari segi diterimanya atau tidaknya.
a.      Hadits Maqbul adalah  ما دل دليل على رجحان ثبوته hadits yang ditunjuki sesuatu keterangan bahwa Nabi SAW ada menyabdakannya yakni adanya lebih kuat dari pada tidak adanya. Yang termasuk dalam hadits ini adalah hadits hshahih dan hadits hasan. Apabila ditinjau dari segi kema’mulannya, hadits maqbul dibagi menjadi 2 yaitu hadits ma’mulun bihi dan hadits ghairu ma’mulin bihi.
b.       Hadits Mardud adalah hadits yang tidak ditunjuki oleh suatu keterangan kepada kuat akan adanya dan ketiadaannya, tetapi adanya dengan ketiadaannya bersamaan.
5.      Hadits ditinjau dari segi sifat sanad dan cara meriwayatkannya.
a.      Hadits Mu’an’an adalah hadits yang diriwayatkan dengan memakai perkataan (dari) fulan, dengan tidak disebut perkataan “ia menceritakan”.
b.      Hadits Mu’annan adalah hadits yang diriwayatkan dengan memakai perkataan ana (bahwasanya).
c.       Hadits Musalsal adalah hadist yang dalam periwayatannya terus menerus perawinya sehingga sampai kepada Rasulullah SAW, baik pada sifat, keadaan ataupun perkataan yang serupa.
d.      Hadits ‘Ali Dan Safil (Nazil) adalah hadits yang tak banyak orang yang menjadi sanadnya. Ada beberapa hadits ‘ali diantaranya : ‘ali mutlak, ‘ali nisbi, ‘ali tanzil dll.
e.        Hadits Mudabbaj adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi yang bersahabat, yang satu meriwayatkan dari yang lain, dengan perantaraan atau tidak.
ILMU HADITS
Resume ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah ilmu hadits
Dosen pengampu:
Dra. Hj. Nurul Maziyah. MM.



Disusun  Oleh :
nor kholis fuadlin
                                                    
            
FAKULTAS TARBIYAH 2D
INSTITUT ISLAM NADLATUL ULAMA (INISNU)
JEPARA 2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar